TANGGAPAN
Seperti yang ditulis oleh pengarang bahwa dalam buku ini berbicara mengenai dialog-dialog yang korelasional (istilah biasa yang masih bermasalah adalah pluralistik), serta bertanggung jawab secara global (atau dialog liberatif). Dialog ini akan berhasil bila didasarkan pada suatu komitmen bersama untuk mengembangkan kesejahteraan manusia dan ekologi—bumi dan kemanusiaan.[3]
Saya melihat bahwa penulis mengusung spirit dari Konsili Vatikan II yang menghasilkan paradigma baru yang mengakui kemungkinan adanya keselamatan yang ditawarkan agama-agama lain dan membenarkan adanya “kebenaran” serta “kesucian”, nilai dan kebajikan yang ditawarkan agama-agama non-Kristen.[4] Hal itu terdapat dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) artikel 8 : “Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya, walaupun di luar persekutuan itu pun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan kurnia-kurnia khas bagi Gereja Kristus, dan mendorong ke arah kesatuan katolik.”